Pengalaman Melahirkan Caesar di RS Santo Borromeus Bandung

Hampir satu bulan yang lalu, tepatnya tanggal 12 Juni 2017, saya melahirkan putri kedua saya di RS Santo Borromeus. Tanggal ini memang sudah saya jadwalkan bersama suami karena kami sudah tahu akan melahirkan melalui operasi Caesar. Hal ini karena anak pertama kami juga dilahirkan melalui operasi caesar juga karena waktu itu terlilit tali pusar. Usia kedua anak saya beda 2 tahun. Sebetulnya masih memungkinkan bagi ibu yang ingin melahirkan normal untuk anak kedua padahal untuk anak pertamanya dilahirkan melalui caesar. Namun jarak waktu antara keduanya harus 3 tahun ke atas. Jika masih 2 tahun ke bawah dikhawatirkan akan mempengaruhi jahitan atau luka operasi sebelumnya.

Anak pertama saya lahirkan di RS Santo Borromeus. Nah untuk anak kedua juga di RS Santo Borromeus dan uniknya kamar perawatannya sama seperti waktu anak pertama dulu. Mungkin bagian adminnya memilihkan no kamar yang sama dengan yang sebelumnya. Sebetulnya saya dan suami sempat survey alternatif RS lain untuk melahirkan. Hal ini dengan pertimbangan bahwa biaya melahirkan di RS Santo Borromeus tergolong cukup mahal. Untuk biaya melahirkan ini memang akan diklaim ke tempat saya bekerja, namun saya harus sedia dana dulu sebelum akhirnya nanti saya klaimkan karena di RS luar Jakarta tidak bisa dibuatkan Guarantee Letter. Saya sempat survey ke RSIA Graha Bunda di Antapani dan RS Santo Yusuf. Pilihan jatuh kembali pada RS Santo Borromeus karena direkomendasikan oleh dokter kandungan saya, Dr. dr. Maringan T., Sp. OG (K)., M. Kes. (panjang bener gelarnya, hehe). Walaupun beliau tidak praktek di Borromeus (prakteknya di RS Hasan Sadikin, RS Santo Yusuf, dan Klinik Medika Antapani), beliau bisa membantu melahirkan di RS Borromeus sebagai dokter tamu. Rekomendasinya ke RS ini karena Borromeus yang sudah berdiri sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu ini memiliki peralatan dan teknologi medis yang lengkap serta tenaga-tenaga medis yang sangat cekatan dan berpengalaman. Gedungnya (Gedung Elisabeth) pun baru dan lobinya serasa di mall bukan di RS. Ada foodcourt nya dengan berbagai macam makanan enak seperti Magic Oven, Calais dan makanan enak lainnya.

Pada tanggal 12 Juni 2017 pagi hari saya datang untuk mengurus administrasi, daftar operasi rawat inap, diambil darah, rekam medis, dll. Pukul 13.00 saya sudah bisa memasuki kamar perawatan sambil menunggu waktu untuk operasi. Jam setengah 4 saya diminta untuk mandi oleh suster dengan sabun antiseptik khusus lalu setelahnya diantar ke ruang operasi. Dr Maringan sudah menunggu di kamar operasi yang modern dan tidak berkesan menakutkan. Sebelum operasi berlangsung saya disuntik epidural oleh Prof Tatang. Alhamdulillaah waktu disuntik saya tidak merasa terlalu sakit, hanya nyelekit sedikit kayak digigit semut 😀 Kemudian beberapa menit kemudian kaki saya mulai merasa kesemutan dan kebas. Saat itulah operasi di mulai. Saya tetap bangun waktu operasi dan melewati setiap detik operasi dengan harap-harap cemas. Kalau ada yang nanya rasanya gimana dioperasi? Waktu disayat tidak berasa sakit sama sekali, hanya berasa seperti dipegang-pegang saja. Yang paling berasa adalah ketika akan mengeluarkan bayi dari perutnya dan saat dijahit, serasa seperti diaduk-aduk perutnya dan kadang tekanannya hampir membuat saya muntah. Untungnya nggak sampai muntah.

Pukul 16:34 (25 menit setelah operasi berlangsung), lahirlah anak kedua saya yang saya beri nama Lana Sukma Kurniawan dengan berat 2,4 kg. Agak kecil namun kata dokter tidak tergolong prematur karena cukup bulan sehingga tidak memerlukan treatment inkubator. Setelah bayi dibersihkan, Dr Sienny Kurniawati.Sp.A sebagai dokter anak saya, menunjukkan Lana pada saya. Lana diletakkan di atas dada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Alhamdulillah sudah ada ASI yang keluar padahal sebelumnya sempat was-was kalau ASI tidak bisa langsung keluar setelah operasi.

Setelah operasi selesai, saya diantar ke kamar perawatan dan disana sudah ada semua keluarga menunggu. Bahagia banget rasanya sudah melalui semua proses operasi dengan lancar dan alhamdulillah saya dan Lana juga sehat. Tinggal pemulihan aja. Waktu di kamar perawatan saya betah banget karena nggak berasa kayak di rumah sakit. Ruangannya bagus nggak kayak bangsal rumah sakit. Susternya ramah-ramah dan terlihat berpengalaman dan cekatan dalam menangani bayi. Makanannya pun enak-enak meskipun ala rumah sakit memang tidak terlalu banyak garam.

Hari pertama saya lewati dengan ngobrol dengan keluarga lalu istirahat sambil nonton tv. Dan tentunya sambil memberi asi ke si dedek bayi 🙂 Saya memilih full ASI jadi Lana rooming in dengan saya. Di rumah sakit saya ditemani mama saya. Suami di rumah jagain anak saya yang pertama tetapi setiap hari dateng ke rumah sakit untuk liat dedek bayinya.

Setelah operasi saya tidak boleh bangun dulu sampai 24 jam. Tetapi sambil baringan ini sudah diminta untuk belajar miring kanan miring kiri yang saya lakukan walaupun luka operasinya cenat-cenut. Setelah 24 jam saya baru mulai boleh coba duduk dan turun dari tempat tidur. Jadi hari kedua dan seterusnya sudah saya sudah mulai jalan-jalan dalam kamar, ke kemar mandi, dan mompa biar asinya semakin banyak. Kegiatan lainnya yang juga dibantu sama suster-suster yang ada disini adalah diajari untuk senam nifas, breastcare, memandikan dan menjemur anak. Lumayan banyak juga pengetahuan tambahannya mengenai mengasuh bayi.

Pada hari keempat sebetulnya saya sudah boleh pulang. Namun sayangnya dokter anak saya melihat bahwa anak saya terlihat sedikit kuning dan menyarankan untuk di phototherapy selama satu malam. Saya akhirnya tinggal semalam lagi agar pulangnya bisa sama-sama Lana. Saya sambil terus memompa untuk menyediakan asi bagi Lana yang sedang di ruang bayi. Namun karena asinya masih belum terlalu banyak, dan takut Lana dehidrasi akhirnya saya setuju untuk dibantu susu formula dulu sambil terus memompa.

Alhamdulillah di hari kelima sudah bisa pulaaang. Sebelum pulang saya, suami dan mama berpamitan kepada suster yang jaga sambil foto-foto sedikit, hehe.

Overall pengalaman melahirkan saya di RS Santo Borromeus sangat lancar, memuaskan dan menyenangkan. Bisa juga cek di blog ini untuk review atau pengalaman melahirkan di Borromeus juga. Bagaimana dengan teman-teman? Kalau ada pengalaman lahiran di RS ini atau RS lainnya share juga yaah..

6 thoughts on “Pengalaman Melahirkan Caesar di RS Santo Borromeus Bandung

  1. Mau tanya dong biaya persalinan nyaa brp , biaya keseluruhan nyaa ? Heheh kebetulan aku minggu depan harus sudah nentuin tmpat oprasi . Di tunggu balesan nyaa bun 🙂

    1. Haloo.. klo biaya sbetulnya tergantung kamar bun.. waktu itu ak pilih kamar executive karena untuk persalinan nggak ada kamar VIP. Pake dokter tamu dan menginap 4malem str 40jt bun..klo nginepnya 3malem dan klo pke dokternya sndiri hrusnya di kisaran 35-38. Semoga lancar operasinya ya bun.. sehat2 ibu dan bayi..

    1. Halo bun, terimakasih ucapannya..untuk dokter tamunya persalinan normal atau operasi bun? Klo waktu itu ak operasi pke dokter tamu, nginep 4 malem abisnya 40jtaan bun. Klo normal harusnya sih jauh di bawah itu biayanya.. mau lahiran ya bun? Semoga lancar yaa, sehat ibu dan bayi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *